REAKSI ALERGI MAKANAN
Pernah mengalami bengkak kemerahan, dan
gatal-gatal setelah menyantap nikmatnya makanan? Atau bahkan sampai merasakan
sesak? Bila ya, kemungkinan anda mengalami alergi terhadap makanan. Meskipun
angka kejadiannya sedikit, namun alergi terhadap makanan perlu juga
diperhatikan karena akibat yang ditimbulkannya bisa menyebabkan kefatalan.
Alergi makanan merupakan respon abnormal adanya makanan yang dipicu oleh sistem
imun tubuh. Reaksi alergi yang terjadi dapat menyebabkan kejadian serius.
Ø Mekanisme
Alergi terhadap Makanan
Reaksi imunologis tubuh mempengaruhi
timbulnya alergi terhadap makanan. Reaksi ini melibatkan imunoglobulin, yaitu
protein yang membantu dalam respon kekebalan tubuh, tepatnya Imonuglobulin E
(IgE) yang membentuk respon imun tubuh. Respon imun yang muncul dalam reaksi
alergi melalui dua tahap, yaitu tahap sensitisasi alergen dan tahap elisitasi.
Ø Tahap
sensitisasi
Tahap sensitisasi muncul ketika tubuh
memproduksi antibodi IgE yang spesifik. Tahap sensitisasi ini juga disebut
dengan tahap induksi, merupakan kontak pertama dengan alergen (yaitu ketika
mengkonsumsi makanan penyebab alergi).
Ø Tahap
elisitasi
Fase elisitasi terjadi jika terdapat pajanan
ulang. Ketika terpajan dengan makanan (penyebab alergi) yang sama, protein akan
mengikat molekul di sel mediator (sel basofil dan sel mast). Tahap elisitasi
ini menyebabkan tubuh mengeluarkan molekul yang menyebabkan inflamasi (seperti
leukotrien dan histamin). Efek yang timbul serta keparahan alergi dipengaruhi
oleh konsentrasi dan tipe alergen, rute pajanan, dan sistem organ yang terlibat
(misalnya kulit, saluran cerna, saluran pernapasan, dan darah).
Ø Makanan
Penyebab Alergi
Pada orang dewasa, makanan yang paling banyak
menyebabkan reaksi alergi yaitu makanan yang berasal dari laut, seperti udang,
lobster, kepiting. Selain makanan laut, kacang-kacangan juga menyebabkan alergi
pada beberapa orang. Makanan lain yang sering menyebabkan reaksi alergi yaitu
ikan dan telur. Kacang polong merupakan salah satu makanan yang dapat
menyebabkan reaksi anafilaksis. Pada seseorang yang sangat alergi. Sejumlah
kecil allergen dapat menyebabkan reaksi alergi. Pada seseorang yang kurang
sensitif, bisa saja mentoleransi sejumlah kecil makanan yang dapat menyebabkan
alergi.
Pada anak-anak, penyebab alergi makanan yang
paling sering yaitu telur, susu, kacang, dan buah. Terkadang, alergi akan
hilang pada anak, namun alergi pada orang dewasa cenderung menetap. Selain itu,
pada anak lebih banyak ditemukan alergi terhadap susu sapi atau susu kedelai
dibandingkan alergi terhadap kacang, ikan, atau udang. Orang dewasa dan
anak-anak cenderung memiliki reaksi alergi terhadap makanan yang sering
dikonsumsi. Misalnya orang di Jepang alergi terhadap nasi, dan di Skandinavia alergi
terhadap ikan kod banyak ditemukan dibanding tempat lainnya.
Ø Gejala
Alergi terhadap Makanan
- Kulit
Reaksi alergi terhadap makanan yang paling banyak muncul ke kulit. Bentol kemerahan, sangat gatal, dan bengkak. Bahkan kadang muncul berkelompok dan keluar dengan cepat. Bentol pada kulit dapat dapat muncul sendiri maupun disertai dengan gejala alergi lainnya.
Dermatitis atopik atau eczema, kondisi kulit yang ditandai dengan gatal, betsisik, kemerahan, bisa juga dipicu oleh alergi terhadap makanan. Reaksi ini umumnya bersifat kronik dan muncul pada seseorang yang memiliki riwayat keluarga mempunyai alergi atau asma. - Saluran napas
Gejala asma seperti batuk, napas berbunyi atau kesulitan bernapas, dikarenakan penyempitan saluran pernapasam, dapat dipicu oleh alergi terhadap makanan, terutama pada bayi dan anak-anak. - Saluran cerna
Gejala alergi terhadap makanan yang mempengaruhi saluran cerna meliputi muntah, diare, kram perut, terkadang ruam kemerahan di sekitar mulut. Selain itu, bisa juga terjadi gatal dan bengkak di sekitar mulut dan kerongkongan, sakit perut, dan banyak gas.
Ø Reaksi
lain terhadap Makanan
Sedangkan reaksi lain yang berhubungan dengan
makanan yaitu intoleransi makanan (seperti intoleransi laktosa, intoleransi
susu), keracunan makanan, dan reaksi keracunan bukan merupakan reaksi dari
respon kekebalan tubuh. Prevalensi alergi makanan lebih rendah dibandingkan
reaksi samping/ efek samping dari makanan. Diperkirakan alergi makanan muncul
sebanyak 2-5% pada populasi.
Pada bayi, reaksi non alergi, biasanya reaksi
sementara pada beberapa makanan terutama buah, biasa ditemukan. Misalnya
terdapat ruam di sekitar mulut disebabkan oleh asam alami pada buah tomat dan
jeruk, atau diare dikarenakan gula dalam jus buah atau makanan lainnya yang
muncul pada beberapa kali. Reaksi lainnya merupakan reaksi alergi, dan dapat
disebabkan oleh makanan yang menimbulkan alergi bila dimakan lagi. Seiring
dengan pertumbuhannya, beberapa anak dapat mentoleransi makanan yang sebelumnya
merupakan penyebab alergi.
Ø Tips
untuk Anda yang Alergi terhadap Makanan
Berikut
beberapa cara yang dapat dilakukan bila anda mengalami alergi makanan:
1.
Hindari makanan penyebab alergi. Hal ini
merupakan cara terbaik untuk menghilangkan alergi.
2.
Ketahui kandungan makanan. Seseorang yang memiliki
alergi terhadap makanan ketika makan di luar rumah perlu menanyakan bahan
makanan yang dikonsumsi. Hal ini perlu anda lakukan untuk menghindari alergen
tersembunyi.
3.
Bacalah label makanan. Hal ini perlu
dilakukan agar anda dapat menghindari makanan penyebab alergi. Di Amerika
Serikat dan beberapa Negara lain telah menerapkan pemberian label dengan
istilah yang lebih umum, seperti penggunaan kata ‘susu’ untuk menggantikan
istilah teksnis seperti ‘kasein’.
4.
Bila reaksi alergi yang muncul sangat hebat,
segera pergi ke dokter.
Jadi, bila memang anda adalah seseorang yang
memiliki alergi terhadap makanan, tahanlah keinginan agar reaksi alergi tidak
muncul yang kemudian mengganggu aktivitas sehari-hari.
Alergi
makanan adalah kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sistem tubuh yang
ditimbulkan oleh alergi terhadap bahan makanan. Alergi makanan di masyarakat
merupakan istilah umum untuk menyatakan reaksi simpang terhadap makanan
termasuk di dalamnya proses non-alergi yang sebenarnya lebih tepat disebut
intoleransi. Intoleransi makanan merupakan reaksi terhadap makanan yang bukan
reaksi imunologik, misalnya reaksi toksik, reaksi metabolik, dan reaksi
indiosinkrasi
Ø PATOFISIOLOGI
a.
Faktor yang berperan dalam alergi
makanan :
1.
Imaturitas
usus secara fungsional (misalnya dalam fungsi-fungsi : asam lambung,
enzym-enzym usus, glycocalyx) maupun fungsi-fungsi imunologis (misalnya : IgA
sekretorik) memudahkan penetrasi alergen makanan. Imaturitas juga mengurangi
kemampuan usus mentoleransi makanan tertentu.
2.
Genetik
berperan dalam alergi makanan. Sensitisasi alergen dini mulai janin sampai masa
bayi dan sensitisasi ini dipengaruhi oleh kebiasaan dan norma kehidupan
setempat.
3.
Faktor
pencetus : faktor fisik (dingin, panas, hujan), faktor psikis (sedih, stress) atau
beban latihan (lari, olah raga).
b.
Alergen dalam makanan :
1.
Merupakan
protein, glikoprotein atau polipeptida dengan besar molekul lebih dari 18.000
dalton, tahan panas dan tahan enzim proteolitik.
2. Pada ikan diketahui allergen-M
sebagai determinan. Pada telur ovomukoid merupakan alergen utama. Pada
susu sapi betalaktoglobulin (BLG), alfalalaktalbumin (ALA), bovin serum
albumin (BSA) dan bovin gama globulin (BGG) merupakan alergen
utama dan BLG adalah alergen terkuat. Pada kacang tanah alergen
terpenting adalah arachin, conarachin dan peanut-1.
Pada udang dikenal allergen-1 dengan berat molekul 21.000 dalton
dan Allergen-2 dengan berat molekul 200.000 dalton. Pada
gandum yang merupakan alergen utama adalah: albumin, pseudoglobulin dan
euglobulin
c.
Terjadinya alergi makanan :
1.
Pada paparan awal, alergen dikenali oleh sel penyaji antigen untuk
selanjutnya mengekspresikan pada sel-T. Sel-T tersensitisasi dan akan
merangsang sel-B menghasilkan antibodi dari berbagai subtipe.
2.
Alergen yang intak diserap oleh usus dalam jumlah cukup banyak dan
mencapai sel-sel pembentuk antibodi di dalam mukosa usus dan organ limfoid
usus,yang pada anak atopi cenderung terbentuk IgE lebih banyak.Selanjutnya
terjadi sensitisai sel mast pada saluran cerna, saluran nafas dan kulit. Kombinasi
alergen dengan IgE pada sel mast bisa terjadi pada IgE yang telah melekat pada
sel mast atau komplek IgE-Alergen terjadi ketika IgE masih belum melekat pada
sel mast atau IgE yang telah melekat pada sel mast diaktifasi oleh pasangan non
spesifik, akan menimbulkan degranulasi mediator. Pembuatan antibodi
IgE dimulai sejak paparan awal dan berlanjut walaupun dilakukan diet eliminasi.
Komplemen akan mulai mengalami aktivasi oleh kompleks antigen antibodi.
3.
Pada paparan selanjutnya mulai terjadi produksi sitokin oleh sel-T.
Sitokin mempunyai berbagai efek terhadap berbagai sel terutama dalam menarik
sel-sel radang misalnya netrofil dan eosinofil, sehingga menimbulkan reaksi
peradangan. Aktifasi komplemen dan terjadinya komplek imun akan menarik
netrofil.
4.
Gejala klinis yang timbul adalah hasil interaksi mediator, sitokin dan
kerusakan jaringan yang ditimbulkannya.
5.
Bayi atopi juga mendapat sensitisasi melalui makanan alergenik yang
terkandung dalam air susu ibu. Bayi-bayi dengan alergi awal terhadap satu makanan
misalnya susu, juga mempunyai resiko yang tinggi untuk berkembang menjadi
alergi terhadap makanan lain.
Ø GEJALA KLINIK/Symptom
Gejala klinis
alergi makanan biasanya mengenai berbagai organ sasaran seperti kulit, saluran
nafas, saluran cerna, mata, telinga, saluran vaskuler. Organ sasaran bisa
berpindah-pindah, gejala sering kali sudah dijumpai pada masa bayi. Makanan
tertentu bisa menyebabkan gejala tertentu pada seseorang anak, tetapi pada anak
lain bisa menimbulkan gejala lain. Pada seseorang makanan yang satu bisa
mempunyai organ sasaran yang lain dengan makanan yang lain, misalnya udang
menyebabkan urtikaria, sedangkan kacang tanah menyebabkan sesak nafas. Susu
sapi bisa menimbulkan gejala alergi pada saluran nafas, saluran cerna, kulit
dan anafilaksis. Bischop (1990) mendapatkan pada penderita yang alergi susu
sapi : 40% dengan gejala asma, 21% eksema, 43% dengan rinitis. Peneliti lain
mendapatkan gejala alergi susu sapi berupa : urtikaria, angionerotik udem,
pucat, muntah, diare, eksema dan asma.
Ø CARA PEMERIKSAAN/DIAGNOSIS
Diagnosis
alergi makanan diperoleh dari anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
laboratorium dan secara akademis dipastikan dengan ”Double Blind Placebo
Controlled Food Challenge”. Secara klinis bisa dilakukan uji eliminasi dan
provokasi terbuka ”Open Challenge”. Pertama-tama dilakukan eliminasi
dengan makanan yang dikemukakan sendiri oleh penderita atau orangtuanya atau
dari hasil uji kulit. Kalau tidak ada perbaikan maka dipakai regimem diet
tertentu.
a.
Diagnosis dengan diet eliminasi
Ada beberapa regimen diet yang bisa
digunakan :
1.
”ELIMINATION
DIET”: beberapa makanan harus dihindari yaitu Buah, Susu, Telur, Ikan dan
Kacang, di Surabaya terkenal dengan singkatan BSTIK. Merupakan makanan-makanan
yang banyak ditemukan sebagai penyebab gejala alergi, jadi makanan-makanan
dengan indeks alergenisitas yang tinggi. Indeks ini mungkin lain untuk wilayah
yang lain, sebagai contoh dengan DBPFC mendapatkan telur, kacang tanah, susu
sapi, ikan, kedelai, gandum, ayam, babi, sapi dan kentang, sedangkan Bischop
mendapatkan susu, telur, kedelai dan kacang.
2.
”MINIMAL DIET 1” (Modified Rowe’s diet 1): terdiri dari beberapa makanan dengan
indeks alergenisitas yang rendah. Berbeda dengan ”elimination diet”, regimen
ini terdiri dari beberapa bahan makanan yang diperbolehkan yaitu : air, beras,
daging sapi, kelapa, kedelai, bayam, wortel, bawang, gula, garam dan susu
formula kedelai. Bahan makanan lain tidak diperbolehkan.
3.
”MINIMAL DIET 2” (Modified Rowe’s Diet 2): Terdiri dari makanan-makanan dengan
indeks alergenisitas rendah yang lain yang diperbolehkan, misalnya : air,
kentang, daging kambing, kacang merah, buncis, kobis, bawang, formula
hidrolisat kasein, bahan makanan yang lain tidak diperkenankan.
4.
”EGG and FISH FREE DIET”: diet ini menyingkirkan telur termasuk makanan-makanan
yang dibuat dari telur dan semua ikan. Biasanya diberikan pada
penderita-penderita dengan keluhan dengan keluhan utama urtikaria, angionerotik
udem dan eksema.
5.
”HIS OWN’S DIET”: menyingkirkan makanan-makanan yang dikemukakan sendiri oleh
penderitanya sebagai poenyebab gejala alergi.
6.
Diet
dilakukan selama 3 minggu, setelah itu dilakukan provokasi dengan 1 bahan
makanan setiap minggu. Makanan yang menimbulkan gejala alergi pada provokasi
ini dicatat. Disebut alergen kalau pada 3 kali provokasi menimbulkan gejala
alergi. Waktunya tidak perlu berturut-turut. Jika dengan salah satu regimen
diet tidak ada perbaikan padahal sudah dilakukan dengan benar, maka diberikan
regimen yang lain. Sebelum memulai regimen yang baru, penderita diberi ”carnaval”
selama seminggu, artinya selama 1 minggu itu semua makanan boleh dimakan
(pesta). Maksudnya adalah memberi hadiah setelah 3 minggu diet dengan baik,
dengan demikian ada semangat untuk menjalani diet berikunya. Selanjutnya diet
yang berikutnya juga dilakukan selama 3 minggu sebelum dilakukan provokasi.
b.
Periksaan Penunjang
1.
Uji kulit :
sebagai pemerikasaan penyaring (misalnya dengan alergen hirup seperti tungau,
kapuk, debu rumah, bulu kucing, tepung sari rumput, atau alergen makanan
seperti susu, telur, kacang, ikan).
2.
Darah tepi :
bila eosinofilia 5% atau 500/ml condong pada alergi. Hitung leukosit 5000/ml
disertai neutropenia 3% sering ditemukan pada alergi makanan.
3.
IgE total dan spesifik: harga normal IgE total adalah 1000u/l sampai umur 20 tahun.
Kadar IgE lebih dari 30u/ml pada umumnya menunjukkan bahwa penderita adalah
atopi, atau mengalami infeksi parasit atau keadaan depresi imun seluler.
Ø DIAGNOSA BANDING
1.
Gangguan
saluran cerna dengan diare dan atau mual muntah, misalnya : stenosis pilorik,
Hirschsprung, defisiensi enzim, galaktosemia, keganasan dengan obstruksi,
cystic fibrosis, peptic disease dan sebagainya.
2.
Reaksi
karena kontaminan dan bahan-bahan aditif, misalnya : bahan pewarna dan
pengawet, sodium metabisulfite, monosodium glutamate, nitrit, tartrazine,
toksin, fungi (aflatoxin), fish related (scombroid, ciguatera), bakteri
(Salmonella, Escherichia coli, Shigella), virus (rotavirus, enterovirus),
parasit (Giardia, Akis simplex), logam berat, pestisida, kafein, glycosidal
alkaloid solanine, histamin (pada ikan), serotonin (pisang, tomat), triptamin
(tomat), tiramin (keju) dan sebagainya.
3.
Reaksi
psikologis.
Ø PENATALAKSANAAN
a.
Identifikasi alergen dan eliminasi :
1.
Diet
eliminasi/provokasi adalah untuk diagnostik. Bila alergen telah diketemukan
maka harus dihindari sebaik mungkin dan makanan-makanan yang tergolong
hipoalergenik dipakai sebagai pengganti.
2.
Pada
bayi dari keluarga atopik, disarankan menunda pemberian makanan makanan yang
dikenal sebagai makanan alergenik utama, dengan cara :
-
Eliminasi
susu sapi sampai usia 1 tahun
-
Eliminasi
telur sampai usia 18-24 bulan
-
Eliminasi
kacang-kacangan dan ikan sampai usia 3 tahun
b.
Pencegahan :
1.
Alergi
tidak bisa disembuhkan, tapi dengan pencegahan yang efektif akan mengendalikan
frekuensi dan intensitas serangan, penggunaan obat, jumlah hari absen sekolah,
serta membantu memperbaiki kualitas hidup.
2.
Pemberian
ASI sangat dianjurkan. Pada bayi yang melakukan eliminasi makanan dan mendapat
ASI, maka ibu juga harus pantang makanan penyebab alergi. Dengan eliminasi
sebelumnya, alergi susu sapi menghilang pada kebanyakan kasus pada umur 2
tahun. Untuk pengganti susu sapi dapat dipakai susu hidrolisat whey
atau hidrolisat casein. Pilihan lain adalah susu formula kedelai,
dengan harus tetap waspada terhadap kemungkinan alergi terhadap kedelai. Pada
bayi yang menderita alergi makanan derajat berat yang telah menggunakan formula
susu hipoalergenik, bila ingin melakukan diet provokasi dengan susu formula
sapi, harus dilakukan dirumah sakit, karena jika gagal ada kemungkinan terjadi
renjatan anafilaksis.
3.
Sayur
mayur bisa dianjurkan sebagai pengganti buah, daging sapi atau kambing sebagai
pengganti telur ayam dan ikan.
4.
Makan
di restoran kurang aman dan dianjurkan selalu membaca label bahan-bahan makanan
jika membeli makanan jadi.
5.
Desensitisasi
pada alergi makanan tidak dilakukan sebab reaksinya hebat dan sedikit sekali
bukti-bukti kerberhasilannya. Andaikata berhasil, selama desensitisasi
penderita juga tetap harus menyingkirkan makanan penyebab serangan alergi itu.
Ø PENGOBATAN
Bila diet tidak bisa dilaksanakan maka
harus diberi farmakoterapi dengan obat-obatan seperti yang tersebut di bawah
ini :
1. Kromolin, Nedokromil.
Dipakai
terutama pada penderita dengan gejala asma dan rinitis alergika. Kromolin
umumnya efektif pada alergi makanan dengan gejala Dermatitis Atopi yang
disebabkan alergi makanan. Dosis kromolin untuk
penderita asma berupa larutan 1% solution (20 mg/2mL) 2-4 kali/hari untuk
nebulisasi atau berupa inhalasi dengan metered-dose inhaler 1,6 mg (800 µg/inhalasi)
2-4 kali/hari. Untuk rinitis alergik digunakan obat semprot 3-4 kali/hari yang
mangandung kromolin 5.2 mg/semprot. Untuk konjungtivitis diberikan tetes mata
4% 4-6 x 1 tetes mata/hari. Nedokromil untuk nebulisasi tak
ada. Yang ada berupa inhalasi dengan metered-dose inhaler dan dosis untuk asma
adalah 3,5 mg (1,75 mg/inhalasi) 2-4 kali/hari. Untuk konjungtivitis diberikan
tetes mata nedokromil 2% 4-6 x 1-2 tetes mata/hari.
2. Glukokortikoid.
Digunakan
terutama bila ada gejala asma. Steroid oral pada asma akut digunakan pada yang
gejala dan PEF nya makin hari makin memburuk, PEF yang kurang dari 60%,
gangguan asma malam dan menetap pada pagi hari, lebih dari 4 kali perhari, dan
memerlukan nebulizer serta bronkodilator parenteral darurat. menggunaan bronkodilator.
Steroid oral yang dipakai adalah : metil prednisolon, prednisolon dan
prednison. Prednison diberikan sebagai dosis awal adalah 1-2
mg/kg/hari dosis tunggal pagi hari sampai keadaan stabil kira-kira 4 hari
kemudian diturunkan sampai 0,5 mg/kg/hari, dibagi 3-4 kali/hari dalam 4-10
hari. Steroid parenteral digunakan untuk penderita alergi
makanan dengan gejala status asmatikus, preparat yang digunakan adalah metil
prednisolon atau hidrokortison dengan dosis 4-10
mg/kg/dosis tiap 4-6 jam sampai kegawatan dilewati disusul rumatan prednison
oral. Steroid hirupan digunakan bila ada gejala asma dan rinitis alergika.
3. Beta adrenergic agonist
Digunakan untuk relaksasi otot polos
bronkus. Epinefrin subkutan bisa diberikan dengan dosis 0,01 mg/kg/dosis
maksimum 0,3 mg/dosis.
4. Metil Xantin
Digunakan sebagai bronkodilator. Obat
yang sering digunakan adalah aminofilin dan teofilin,
dengan dosis awal 3-6/kg/dosis, lanjutan 2,5 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam.
5. Simpatomimetika
1.
Efedrin :
0,5 – 1,0 mg/kg/dosis, 3 kali/24 jam
2.
Orciprenalin : 0,3 – 0,5 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam
3.
Terbutalin :
0,075 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam
4.
Salbutamol
: 0,1 – 0,15 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam
6. Leukotrien antagonis
LTC4 dan LTD4
menimbulkan bronkokonstriksi yang kuat pada manusia, sementara LTE4 dapat
memacu masuknya eosinofil dan netrofil ke saluran nafas. Dapat digunakan pada
penderita dengan asma persisten ringan. Namun pada penelitian dapat diberikan
sebagai alternatif peningkatan dosis kortikosteroid inhalasi, posisi anti
lekotrin mungkin dapat digunakan pada asma persisten sedang, bahkan pada asma
berat yang selalu membutuhkan kortikosteroid sistemik, digunakan dalam
kombinasi dengan xantin, beta-2-agonis dan steroid. Preparat yang sudah ada di
Indonesia adalah Zafirlukast yang diberikan pada anak sebesar
20 mg/dosis 2 kali/24jam.
7. H1-Reseptor antagonis
H1 reseptor
antagonis generasi kedua tidak ada efek samping CNS. Setirizin bisa digunakan
pada anak mulai umur 1 tahun dan tidak ada efek samping kardiovaskular, dapat
digunakan jangka lama. H1 reseptor antagonis generasi pertama efek
antikolinergiknya dapat memperburuk gejala asma karena pengentalan mukus. Pada
dosis tinggi efek samping pada CNS sangat membatasi penggunaanya dalam
pengobatan asma. Beberapa penelitian membuktikan efektifitas. Difenhidramin
diberikan dengan dosis 0,5 mg/kg/dosis, 3 kali/24 jam. CTM diberikan dengan
dosis 0,09 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam. Setirizin, dosis
pemberian sesuai usia anak adalah: 2-5 tahun: 2.5 mg/dosis,1 kali/hari; >
6 tahun : 5-10 mg/dosis,1 kali/hari. Loratadin, dosis
pemberian sesuai usia anak adalah: 2-5 tahun : 2.5 mg/dosis,1 kali/hari; >
6 tahun : 10 mg/dosis,1 kali/hari. Feksofenadin, dosis
pemberian sesuai usia anak adalah : 6-11 tahun : 30 mg/hari, 2 kali/hari; >
12 tahun : 60 mg/hari, 2 kali/hari atau 180 mg/hari, 4 kali/hari. Azelastine,
dosis pemberian sesuai usia anak adalah: 5-11 tahun : 1 semprotan 2 kali/hari; >
12 tahun : 2 semprotan, 2 kali/hari. Pseudoephedrine, dosis
pemberian sesuai usia anak adalah : 2-6 tahun : 15 mg/hari, 4 kali/hari; 6-12
tahun : 30 mg/hari, 4 kali/hari; > 12 tahun : 60 mg/hari 4 kali/hari. Ipratropium
bromide 0.03% 2 semprotan, 2-3 kali/hari.
Ø PROGNOSIS
Alergi makanan
yang mulai pada usia 2 tahun mempunyai prognosis yang lebih baik karena ada
kemungkinan kurang lebih 40% akan mengalami grow out. Anak yang
mengalami alergi pada usia 15 tahun ke atas cenderung untuk menetap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar